Definisi: Secara bahasa ada yang berpendapat berasal dari kata najwah yaitu
bukit yang menonjol. Disebut najwa karena dua orang yang saling melakukannya

menyendiri dengan membawa rahasianya, sebagaimana bukit yang menonjol
menyendiri dari permukaan bumi lainnya. (lihat tafsir al-Qurthubi 28/238,

Menurut Istilah, Najwa ada dua macam :

1. Najwa yang terjadi antara dua orang tanpa melibatkan orang ketiga, atau

terjadi antara tiga orang tanpa melibatkan orang keempat … dan seterusnya.
2. Najwa yang dilakukan oleh sebagian anggota jama’ah tanpa melibatkan jama’ah

secara keseluruhan, atau tanpa melibatkan qiyadah jama’ah.

Bentuk Najwa yang pertama seperti yang diisyaratkan oleh Rasululloh SAW saat
bersabda: “Jika kalian bertiga, janganlah yang dua orang berbisik (melakukan

najwa) tanpa melibatkan yang ketiga, sebab yang demikian itu membuatnya sedih”
(Bukhari [6288], Muslim [5823,5825,5826] ).

Bentuk Najwa yang kedua telah disebutkan oleh Alloh SWT dalam Al-Qur’an

Al-Karim: Tiada pembicaraan rahasia antara tiga orang melainkan Dia-lah yang
keempatnya, dan tiada pembicaraan antara lima orang melainkan Dia-lah yang

keenamnya, dan tiada (pula) pembicaraan antara (jumlah) yang kurang dari itu
atau lebih banyak, melainkan Dia ada bersama mereka dimanapun mereka berada.

Kemudian Dia akan memberitakan kepada mereka pada hari kiamat apa yang telah
mereka kerjakan. Sesungguhnya Alloh Maha Mengetahui segala sesuatu ( Q.S.

Al-Mujadilah:7 ).

Dan juga firman Alloh SWT: “Hai orang-orang yang beriman, apabila, apabila kamu
mengadakan pembicaraan rahasia, janganlah kamu membicarakan tentang membuat

dosa, permusuhan dan durhaka kepada Rasul…( Q.S. Al-Mujadilah:9 ).

Syeikh Abdul hamid al-Bilali – Semoga Alloh SWT menjaganya – berkata: “Tujuan

utama dari dua bentuk Najwa ini adalah menciptakan kesedihan pada orang-orang
beriman”, sebagaimana firman Alloh SWT: “ Sesungguhnya pembicaraan rahasia (

Najwa ) itu adalah dari setan supaya orang-orang yang beriman itu berduka cita
(bersedih), sedang pembicaraan itu tiadalah memberi mudharat sedikitpun kepada

mereka, kecuali dengan izin Alloh” ( Q.S. Al-Mujadilah:10 ).

Najwa ini merupakan pintu masuk setan yang sangat berbahaya bagi jama’ah kaum
muslimin. Pintu ini telah dipilih oleh musuh Alloh yang sangat jahat , dalam

rangka memecah belah jama’ah kaum muslimin.

Sayyid Qutb – rahimahulloh – berkata: “Tampaknya ada sebagian kaum muslimin
yang jiwanya belum terbentuk oleh hassatut-tanzhim al-Islami (sensitifitas

tanzhim Islami), saat terjadi suatu urusan atau perkara, mereka melakukan
perkumpulan-perkumpulan (membentuk forum-forum) dalam rangka melakukan Najwa

diantara sesama mereka dan melakukan “syura” yang jauh dari qiyadah (pimpinan)
mereka. Perbuatan ini adalah sesuatu yang tidak dibenarkan oleh :

Thabi’at al-Jama’ah al-Islamiyyah (tabiat jama’ah Islam), Ruhut-tanzhim
al-Islami (spirit tanzhim Islami), sebab keduanya ini menuntut adanya :

Pemaparan dan penyampaian segala pendapat, semua gagasan dan segala usulan agar

disampaikan terlebih dahulu kepada qiyadah (pimpinan), dan tidak melakukan
perkumpulan-perkumpulan sampingan (forum-forum tandingan) didalam jama’ah.

Tampak juga bahwa sebagian dari perkumpulan-perkumpulan ini membicarakan

hal-hal yang mengakibatkan:

– Munculnya balbalah (kekacauan),
– Munculnya sesuatu yang menyakiti jama’ah muslimin,

Walaupun maksud menyakiti itu tidak ada didalam hati orang-orang yang melakukan

Najwa ini, akan tetapi sekedar membedah atau membongkar masalah-masalah yang
sedang terjadi (realita), mengemukakkan pandangan-pandangan terhadapnya tanpa

sepengetahuan qiyadah, telah mengakibatkan terjadinya: rasa menyakiti, dan
munculnya sikap tidak ta’at (pada barisan jama’ah). [Fi zhilalil Qur’an 6/3510].

Sayyid Qutb berkata: “ Kaum muslimin yang menyaksikan adanya waswasah

(kasak-kusuk), al-hams (bisik-bisik) dan pembicaraan yang menyendiri akan
muncul dalam diri mereka al-huzn (kesedihan), al-tawajjus (kecurigaan, tanda

tanya, kekhawatiran), serta terciptanya suasana tidak stiqah, dan bahwasanya
setan menggemarkan orang-orang yang melakukan Najwa dalam rangka membuat sedih

jiwa saudara-saudara mereka serta memasukkan kedalam jiwa mereka al-wasawis
(kasak-kusuk) dan al-humum (kedukaan). [Fi Zhilalil Qur’an 6/3510].

Sayyid Qutb berkata: “ Dan tidak dibenarkan membentuk perkumpulan-perkumpulan

pinggiran (forum-forum tandingan) yang jauh dari pengetahuan jama’ah.
Perkumpulan pinggiran inilah yang dilarang Al-Qur’an dan Rosul. Dan inilah yang

menjadikan jama’ah terpecah, atau menyebabkan munculnya keraguan dan hilangnya
tsiqah didalam barisan jama’ah. Dan inilah yang dikelola oleh setan untuk

membuat sedih orang-orang beriman” [Fi Zhilalil Qur’an 6/3511].